Di era digital ini, kita sering kali menemukan diri kita di depan layar komputer atau ponsel. Kita berinteraksi dengan orang lain secara online, berbagi informasi, mengkonsumsi konten, dan bahkan melakukan pekerjaan secara jarak jauh. Namun, ketika kita bersosialisasi online, apa yang terjadi pada empati dan solidaritas kita?
Aksi Online: Antara Solidaritas dan Sensasi
Hal ini memang seringkali tidak disadari oleh kita. Kita berlalu-lalang di dunia virtual tanpa menyadari bagaimana interaksinya dapat mempengaruhi perilaku kita secara online. Bahkan, kadang-kadang, kita bahkan salah mengerti konteks dan empati orang lain.
Contoh: Apakah Kalian Tahu Ini Benar-Benar Berarti Mereka Sedih?
Ketika kita melihat post atau komentar orang lain secara online, seringkali kita langsung membuat asumsi tentang empati dan kondisi mereka tanpa meminta klarifikasi. Contohnya, apabila seseorang berbagi foto pohon yang mati di Instagram, kita langsung memikirkan bahwa itu sebabnya mereka sedih. Namun, ada kemungkinan besar mereka hanya sedang berbagi alam yang indah atau mencari dukungan dari teman-temannya untuk mengumpulkan donasi untuk replanting.
Perlu Solidaritas Online yang Baik
- Gunakan kalimat “Saya tidak yakin” saat kita tidak memahami konteks atau empati orang lain. Contohnya: “Saya tidak yakin mengapa kamu begitu, tapi saya ingin mendukungmu.”
- Pergunakan istilah yang netral seperti ‘sedih’ dan bukan menyalahkan orang lain dengan menyebut mereka ‘mentragis’.
- Buat konten yang edukatif dan memberikan informasi yang berguna tentang isu-isu sosial.
Di era digital ini, kita perlu belajar untuk bersosialisasi secara online dengan lebih baik. Dengan demikian, kita bisa membangun komunitas yang lebih solidaritas dan mendukung satu sama lain tanpa membingungkan orang lain. Jangan lupa untuk selalu berhati-budi saat kita berinteraksi secara online!